My Hijab Story

by - 9:32 PM

Sekitar bulan Agustus 2013, gue memulai masa yang kata orang terindah dalam hidup : Masa SMA. Gue yang notabene siswa baru, saat itu tertarik dengan iklan pensi sekolah gue yang terkenal yahud banget. Karena gue SMP seorang dancer (kalo kalian percaya), daftarlah gue buat jadi PSCS (Pagelaran Seni Citra SMANTI) Artist--semacam pengisi acara--dan gabung ke Bhawikarsu Best Dancer...oh maybe I forget the name. Ya, pokoknya itulah ya. Seleksinya lama karena banyak tahapnya. Giliran gue saat itu yang paling akhir. Jadi, sore-sore gue duduk di lapangan sekolah dan merenung "Apa benar ini yang gue butuhkan?"

***

Flashback sedikit. Gue orangnya demen blogwalking. Hmm intinya gue suka jalan-jalan di internet buat cari hal penting dan berguna sampai hal paling nggak make sense sekalipun. Entah kenapa hari itu gue ngebaca tentang hijab. Disitu gue baru tau kalo seorang anak gadis nggak berjilbab, ayahnya harus siap dapat sangsi dari Allah. Berangkat dari sana, gue mulai searching-searching lagi tentang hal yang menarik minat gue saat itu. Dari sana hati gue mulai terketuk untuk mempersiapkan diri gue pake jilbab suatu saat nanti. Noted that guys : suatu saat nanti. Kalo gue udah siap.

Balik lagi ke lapangan tempat gue duduk buat nunggu giliran. Kebiasaan yang sampe sekarang masih gue lakuin adalah berpikir dengan mempertanyakan sesuatu ke diri gue sendiri. Gue tiba-tiba inget bacaan tentang berhijab dan bagaimana Allah Yang Maha Penyayang itu memuliakan seorang wanita melalui hijabnya. 

Disini gue mulai dengan pertanyaan, apasih definisi dari siap? Apa ketika gue udah jadi orang baik? Lah, emang sekarang gue ini orang jahat? Kalo sekarang gue belom baik, terus kapan dong gue baiknya?

Pokoknya otak dan hati gue bergejolak. Apalagi suasana saat itu mendukung banget. Sore hari, teduh, dan berangin sepoi. Sampai akhirnya gejolak batin gue berakhir pada pertanyaan "Kalo gue nggak siap, kapan gue akan siap?" Sedangkan sebagai manusia kita nggak tau kapan bencana atau musibah akan muncul dan sampai saat tiba waktunya itu gue belum bisa menjalankan perintah Tuhan gue dengan menjadi muslimah yang sempurna. Selain itu, gue sayang sama orangtua gue. Mereka orang baik. Masa gara-gara gue mereka dihukum Allah? Gue juga pengen banget jadi amanah yang baik buat mereka, yang bisa membantu mereka ngedapetin Jannah.

Kemudian dengan tanpa pikir panjang, gue batalin seleksi dance gue hari itu. Gue pulang dan gue bilang ke mama kalo gue mau pake hijab.

Teman-teman gue ternyata sepeduli itu dan tiap hari ada aja dari mereka yang nanya apa hal yang membuat gue berhijab tanpa pikir panjang alias nekad. Karena kebanyakan dari mereka akan menggunaka hijab ketika mereka siap atau ketika mereka sudah dapat hidayah. Gue heran dong. Bukannya tugas kita untuk mempersiapkan? Bukannya tugas kita untuk mencari hidayah itu? Ini perintah Tuhan lho!

Okelah terserah mereka. Pada akhirnya mereka sendiri yang akan jadi pemeran utama dalam hidup mereka sendiri, gue cuma figuran. Gue pun akan menjadi pemeran utama cerita gue. Gue memilih berjilbab dan gue nggak nyesel. Kadang juga gue suka terheran-heran (hidup gue heran mulu) dengan pendapat orang-orang semacam "perbaiki diri dulu lah baru pake jilbab." Lah gue mikir. Sampai kapan?

Lucu juga orang-orang ini. Gue sih mikirnya jilbab ini sekalian buat tameng. Gue juga pake jilbab bukan karena gue udah jadi orang yang bener, but the point is ketika kita pake hijab, tanggung jawab untuk menjadi lebih baik akan semakin besar. Gue jadi punya rasa malu terhadap identitas gue sebagai muslimah ketika gue jadi orang yang nggak bener. Kalo kata orang sih, malu dong sama jilbabnya.

Gue juga sering dibuat heran sama orang yang dulunya pake hijab kemudian dia lepas jilbabnya dan memilih menjalani hidup dengan rambut badai berkibar dengan pakaian kekinian. Mungkin merasa lebih cantik kali ya. Honestly, gue juga merasa badai tanpa kain di kepala gue. Rambut gue bagus tauuu. Tapi, gue mikir lagi nih. Is it the trully meaning of "kekinian"? Karena menurut gue mereka bukannya kekinian tapi malah mengalami kemunduran. 

Inget kan jaman nenek moyang (re: manusia prasejarah) ketika manusia belum pake baju, trus seiring perkembangan jaman mereka mulai menutupi hal-hal vitalnya. Trus lama kelamaan mereka mengenal pakaian, dilanjutkan turunnya perintah berjilbab. 

Nah, sekarang mari bermain logika. Manusia yang awalnya nggak pake baju, semakin modern mereka semakin menutupi bagian dari tubuhnya. Sekarang, manusia yang awalnya pake jilbab, atau let's say pake baju yang biasa-biasa aja, lalu hal yang dianggap kekinian adalah yang pake crop tee, hotpants, rok kurang bahan, baju nerawang jaring-jaring, sampai cuman pake underwear di depan umum, apakah itu the trully meaning of kekinian? Ataukah kemunduran?

Justru pake hijab adalah the trully meaning of perkembangan jaman guys. Sekali lagi, pake logikanya. Jangan terbodohi oleh jaman guys! Hidup kita, kita sendiri yang tentukan. Ibaratnya kita punya pisau, sisi mana yang akan kita genggam, kita sendiri yang tentukan. Intinya, jadilah manusia yang cerdas!

Semoga yang baca bisa terketuk hatinya untuk memulai dan yang sudah memulai, semoga bisa disempurnakan, termasuk gue sendiri.


Thanks for reading :)
Wildflower.

You May Also Like

0 comments