Wednesday, May 31, 2017

Beberapa waktu belakangan ini saya sering banget dapet tugas kelompok, entah itu untuk diskusi, bikin paper, maupun presentasi. Sesuatu yang saya highlight disini adalah objektif dari tugas akelompok itu sendiri yang seharusnya membuat saya bisa mudah bekerja sama dengan orang lain, justru membuat saya lebih individualis. Bukan berarti saya sama sekali nggak bisa kerja bareng orang lain atau ansos ya, tapi entah mengapa hal ini justru membuat saya sering banget geregetan dengan tingkah temen-temen saya yang aneh-aneh.

Sebagai mahasiswa, segudang aktivitas di luar maupun di dalam kampus udah bukan sebuah kejutan lagi. Sebagian besar mahasiswa pun begitu adanya. Entah mengapa ada beberapa orang yang merasa dirinya sangat sibuk sehingga luput dari pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan. Misalnya, ketika saya menjadi inisiator dalam sebuah project kelompok (yang berujung selalu), beberapa dari orang-orang ini susah banget dimintai tolong. Padahal kan emang tugas mereka sebagai bagian dari kelompok itu untuk ikut mengerjakan sesuatu yang harusnya dikerjakan. Toh, saya bukannya melimpahkan semua tanggung jawab ke mereka kan? Lucunya, alasan sebagian besar dari mereka adalah "Aduh, nggak bisa nih. Aku banyak kerjaan." Disitu saya cuma bisa terdiam, nyengir dalam hati, trus nggak ngerti mau ngomong apa. 

Setelah banyak kejadian aneh-aneh semacam itu, saya sering brainstorming dengan orang-orang yang nasibnya sama kaya saya (exchanger) tentang arti sebenarnya dari istilah "sibuk" itu sendiri. Kesimpulan yang saya dapet, istilah "sibuk" itu bias. Mulai dari keadaan yang dimiliki seseorang ketika dirinya tidak bisa diganggu, cuma alasan aja supaya orang-orang nggak bisa ganggu dia, sampai untuk orang-orang yang tidak bisa atau sulit mengurutkan prioritas mereka. Sederhananya adalah,

"There is no busy people. It's all about priority. If you labelled your self with the word 'busy', it means that you have not known how to act efficient and effectively."

Sibuk adalah ketika kita merasa kita tidak punya waktu untuk melakukan suatu hal. Parahnya, ada yang sampai menghindari tugas-tugas yang sebenarnya harus dikerjakan, hanya karena dia men-cap dirinya sibuk. No, guys! Kalian harus mulai membedakannya sekarang. Jika kalian sampai merasa seperti itu, keadaannya kritis. Berarti kalian sama sekali nggak tau caranya memanfaatkan waktu dengan baik, nggak tau gimana caranya produktif, bukan sibuk.

Nah, kalau sibuk ini dibawa ke dalam sebuah hubungan, umumnya agak repot untuk pelaku-pelaku yang kadar kedewasaannya masih di perbatasan. Misal, A dan B punya hubungan khusus. A ngambek ketika B ini nggak bales chatnya lantaran si A nganggep si B ini sibuk. Nah, si A ini bukan tipe yang open minded dan pengertian. Jadi si A merasa dirinya berhak ngambek karena hal itu. Nah, si B ini sebenarnya produktif. Dia sedang sibuk ikut kegiatan bermanfaat seperti lomba kancah nasional dan program-program lain yang bisa meng-upgrade dirinya. Si A tau itu, tetapi salah men-cap si B sebagai seorang yang sibuk. Alhasil, si B dapet prestasi dan si A cuma bisa ngambek terus. Parahnya lagi, sebenarnya hubungan mereka sulit didefinisikan. Keluarga, bukan. Pacar, apalagi. Ya, cuma temen aja yang nggak jelas hubungannya kemana. 

Nah, jadi sebisa mungkin mulai dari sekarang, alih-alih menjadi orang yang sibuk, saya mencoba jadi orang yang produktif. Menjadi sibuk lebih capek dibandingkan dengan menjadi orang yang produktif. Karena ketika once kita merasa sibuk, bawaan kita tertekan mulu, stress, ngerasa kerjaan nggak selesai-selesai. But, beda kalau kita pretend diri kita as productive person, kita malah ingin melakukan hal yang lebih, karena kita justru ngerasain manfaatnya. 



A Slice Story About Wildflower . 2017 Copyright. All rights reserved. Blog Templates Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates